Mengulik Faktor Pembentuk Harga Beras di Halmahera Tengah
Weda (07/11) - Di tengah geliat ekonomi akibat ekspansi industri hilirisasi nikel, harga beras premium di tingkat distributor terpantau berada di kisaran Rp17.000/kg. Angka ini sedikit lebih tinggi dari Harga Eceran Tertinggi (HET) zona 3 (Maluku Papua), yaitu Rp15.800/kg. Fenomena ini memunculkan pertanyaan besar: Apa yang sebenarnya membentuk harga beras di Halmahera Tengah?
Untuk menjawab itu, tim gabungan Tenaga Ahli Menteri Pertanian, Badan Pangan Nasional (Bapanas), dan Balai Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Maluku Utara menelusuri langsung ke Weda. Koordinasi dilakukan bersama Kapolres Halmahera Tengah, AKBP Fiat Dedawanto, S.Pd.T., S.I.K., M.H., beserta Tim anggota Satgas Pangan Daerah, untuk mendapatkan gambaran menyeluruh mengenai alur distribusi dan pasokan beras di wilayah ini.
Dari kunjungan ke distributor dan pengecer, ditemukan kondisi yang cukup kompleks. Harga beras dari Surabaya, yang menjadi salah satu titik pasokan utama. Setelah ditambahkan biaya logistik, margin antara harga modal dan HET menjadi sangat tipis. Penggunaan Tol Laut membantu menekan biaya logistik. Namun, pasokan jalur Tol Laut hanya 1x/bulan. Saat distribusi beralih ke jalur ekspedisi komersial dan perusahaan pelayaran lainnya, ongkos pengiriman melonjak.
Di sisi lain, Operasi Pasar SPHP yang digelar oleh Pemerintah Daerah, Polres Halmahera Tengah, dan Kodim 1512/Weda menjadi jaring pengaman social bagi kelompok masyarakat berpendapatan rendah. Program ini meskipun tidak mampu menurunkan Harga dibawah HET, setidaknya mampu menjaga akses masyarakat terhadap beras dengan harga terjangkau.
Kunjungan dan temuan lapangan ini menjadi langkah penting untuk merumuskan kebijakan yang lebih adaptif dengan mempertimbangkan struktur biaya logistik di wilayah kepulauan, menjaga keseimbangan pelaku usaha, dan pada saat yang sama melindungi daya beli masyarakat.